SEGELINTIR CINTA DIHATIKU
Pagi ini,kuseruput secangkir kopi panas dihadapanku.Padahal,sekarang
jatahku untuk tidur.Tadi malam,aku dan cs-ku baru saja rapat anggota
FBI.Lelah rasanya.
“Tumben pagi-pagi sudah nongkrong Kang.”Yusuf menghampiriku.Kulihat dia menenteng sebuah buku.Lebih mirip sebuah nadhoman.Dia duduk disampingku.
“Iya Suf,suntuk dikamar terus.Mumpung liburan,pengen refreshing lah.”terangku. Sesekali,kuhisap rokok Dji Sam Soe pemberian Rohman tadi malam.Aku benar-benar belum bisa menghilangkan kebiasaanku yang satu ini.Susah sekali rasanya.”Eh Kang,denger-denger sampeyan mau nikah.Iya tho Kang?”Pertanyaan Yusuf mengingatkanku pada sebuah nama.Nama yang selalu hidup dalam hatiku.Sebuah nama,yang kuharap selalu abadi disana.”Kang,kok malah diam tho?”kejar Yusuf.Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.”Ealah Suf,kamu denger dari siapa?Emangnya ada,wanita yang mau menikah denganku?”
“Kang,sampeyan nggaya nggak tahu,apa benar-benar nggak tahu?Aku ini sudah lama menjadi khodam Kang,sampeyan jadi idola di asrama putri.Sampeyan aja yang cuek banget gitu.”Yusuf berbicara panjang lebar.Aku kembali tersenyum mendengarnya.”Lha,emangnya aku harus gimana?Menyapa setiap santri putri yang berpapasan denganku?Ah,kamu ini.Ada-ada saja.”
“Bukan begitu Kang.Minimal sampeyan bukalah sedikit hatimu untuk seorang wanita.Ingat Kang,sampeyan sudah cukup umur lho.”Sudah berulangkali kudengar ungkapan seperti itu dari banyak orang.Terutama ibuku.Setiap beliau menelepon,yang ditanyakan bukan kabar atau keadaanku.Tapi hal itu lagi.”Gimana Le,apa kamu sudah punya calon?”Pertanyaan itu tak pernah lepas dari mulut ibuku.Aku bosan.Tapi maklum juga.Aku adalah putra pertama dikeluarga.Adikku Cuma satu.Aulia namanya.Dia baru duduk di bangku SMA.Ah,mereka tak tahu yang sesungguhnya.
***
“Tumben pagi-pagi sudah nongkrong Kang.”Yusuf menghampiriku.Kulihat dia menenteng sebuah buku.Lebih mirip sebuah nadhoman.Dia duduk disampingku.
“Iya Suf,suntuk dikamar terus.Mumpung liburan,pengen refreshing lah.”terangku. Sesekali,kuhisap rokok Dji Sam Soe pemberian Rohman tadi malam.Aku benar-benar belum bisa menghilangkan kebiasaanku yang satu ini.Susah sekali rasanya.”Eh Kang,denger-denger sampeyan mau nikah.Iya tho Kang?”Pertanyaan Yusuf mengingatkanku pada sebuah nama.Nama yang selalu hidup dalam hatiku.Sebuah nama,yang kuharap selalu abadi disana.”Kang,kok malah diam tho?”kejar Yusuf.Aku hanya tersenyum kecut melihatnya.”Ealah Suf,kamu denger dari siapa?Emangnya ada,wanita yang mau menikah denganku?”
“Kang,sampeyan nggaya nggak tahu,apa benar-benar nggak tahu?Aku ini sudah lama menjadi khodam Kang,sampeyan jadi idola di asrama putri.Sampeyan aja yang cuek banget gitu.”Yusuf berbicara panjang lebar.Aku kembali tersenyum mendengarnya.”Lha,emangnya aku harus gimana?Menyapa setiap santri putri yang berpapasan denganku?Ah,kamu ini.Ada-ada saja.”
“Bukan begitu Kang.Minimal sampeyan bukalah sedikit hatimu untuk seorang wanita.Ingat Kang,sampeyan sudah cukup umur lho.”Sudah berulangkali kudengar ungkapan seperti itu dari banyak orang.Terutama ibuku.Setiap beliau menelepon,yang ditanyakan bukan kabar atau keadaanku.Tapi hal itu lagi.”Gimana Le,apa kamu sudah punya calon?”Pertanyaan itu tak pernah lepas dari mulut ibuku.Aku bosan.Tapi maklum juga.Aku adalah putra pertama dikeluarga.Adikku Cuma satu.Aulia namanya.Dia baru duduk di bangku SMA.Ah,mereka tak tahu yang sesungguhnya.
***
![]() |
| Segelintir Cinta Dihatiku |
Kupandangi sebuah foto kecil didalam kitab Ihya-ku.Wajah yang sangat
cantik.Aku benar-benar jatuh hati padanya.Kelembutan dan kebaikan
hatinya membuatku yakin,bahwa aku tak salah meletakkan namanya
dihatiku.Mahira.Gadis yang pertama kali masuk di
kehidupanku.Kuharap,dialah gadis terakhir dalam kehidupanku.Sudah lama
aku mengenalnya.Dulu,aku dan Mahira sama-sama belajar di sebuah
pesantren dekat rumahku.Hanya saja,hal itu tak berlangsung lama.Ibu
menyuruhku untuk melanjutkan kuliah di kota santri ini.Tak pernah
kusangka,aku kan bertemu lagi dengannya di kota ini.
“Kang Iful,sampeyan ditimbali Kyai di ndalem.”Yusuf datang mengagetkanku.Segera saja,kututup kitab Ihya-ku.Aku melangkah pasti menuju ndalem Kyai.Hatiku diliputi banyak pertanyaan.
***
Ternyata,Kyai menyuruhku untuk pulang.Kakekku sakit.Akhirnya aku manut saja.Setelah berkemas,aku pamit kepada Yusuf.”Wah,ini jangan-jangan mau ada yang lamaran yang Kang?”Yusuf menggodaku.”Lamaran opo tho Suf,sudah.Aku pamit.Salam buat kawan-kawan ya.Assalamu’alaikum.”
“Insya Allah.Kang.Hati-hati.Wa’alaikumsalam.”
Lamaran?Yang benar saja.Biarlah mereka berkata seperti itu.Jika tiba saatnya nanti,akupun akan menemui dirinya.Kan kuungkapkan semua padanya.
***
“Iful,kamu cucu kakek yang paling besar,jaga pesantren ini ya.”Setelah ngendika seperti itu,badan kakek lemas.Beliau telah kembali ke Rahmatullah.Suasana duka langsung menyelimuti keluargaku.Terutama ibu,beliau adalah putri kesayangan kakek.Apalagi,beliau juga baru kehilangan Abah setengah tahun yang lalu.
***
Sehari setelah kakek meninggal,ibu memanggilku.”Ful,ada sesuatu yang harus kamu ketahui.Sebelum meninggal,kakekmu telah menjodohkanmu dengan seorang gadis.Dia baik budi pekertinya,halus bicaranya,ibu suka sama dia.”Hatiku bergetar mendengar penuturan ibu.Pikiranku langsung tertuju pada Mahira.Haruskah aku manut pada wasiat kakekku,dan membunuh perasaanku terhadap Mahira?Lalu,mana rasa baktiku pada ibuku?Ya Allah,sungguh,aku tak tahu harus bagaimana.”Siapa dia Bu?”tanyaku.”Dia cucu teman kakekmu waktu nyantri di Kebumen.Mereka telah menjodohkanmu sejak kalian masih kecil.Namanya Arini.Kau pasti kenal dia Nak.”Arini?Siapa yang tak mengenalnya?Seorang gadis yang menjadi idaman banyak orang.Dia putri KH Ismail,pendiri Pesantren Darul Ulum Kudus yang kesohor itu.Tubuhku terasa lemas mendengar cerita ibu.Bagaimana mungkin aku mampu hidup dengan gadis seperti Arini?Siapa aku?Jika rencana kakek benar-benar terwujud,aku bukanlah akan menjadi suami yang baik untuk Arini.Aku mengukur diriku sendiri.”Bu,tidakkah ini terlalu cepat untuk Iful?”tanyaku pada ibu.Kulihat ibu mengernyitkan dahinya.”Terlalu cepat bagaimana Ful,ibu kira,kau sudah pantas untuk menikah.Apalagi yang kamu tunggu.Apa kau tidak cocok dengan Arini?Kurang apa dia Ful?Sudahlah,kamu manut saja.Ini pesan terakhir dari kakekmu.”Ibu meninggalkanku dalam sebuah pilihan.Ucapannya membuatku semakin tak berdaya.Arini terlalu sempurna,lagipula,sudah ada Mahira dalam hatiku.Duh Gusti,mengapa jadi seperti ini?Padahal,aku sudah berniat untuk mengkhitbah Mahira dalam waktu dekat ini.Tapi,mengapa waktu tak berpihak padaku?
***
Aku telah berulangkali melakukan sholat istikharah.Namun,tak sekalipun wajah Arini hadir dalam hatiku.Yang ada hanyalah Mahira,Mahira,dan Mahira.Sampai saat ini,seminggu sebelum pernikahan ku dengan Arini,gadis pilihan kakek dan ibuku.Arini tak secantik Mahira.Dia memang lembut,tutur bahasanya juga halus.Tapi,hatiku masih belum bisa terbuka untuknya.Aku masih terpaut pada wajah cantik Mahira.Mungkin,karna Mahira adalah cinta pertama yang mengakar dalam hatiku.Meskipun hingga saat ini,perasaan itu masih terpendam.Astaghfirullahal’adzim..Ya Robbi,bukankah seharusnya aku melupakan Mahira dan mencintai Arini?Gusti,bagaimana setelah menikah nanti,aku tak bisa mencintai Arini,istriku sendiri?Ataukah lebih baik,aku tak mendapatkan keduanya?
***
Kini,Arini telah resmi menjadi istriku.Ibu benar,dia gadis yang sholihah.Tapi,aku masih belum bisa mencintai Arini.Dihatiku hanya ada nama Mahira.Ya Tuhan,bagaimana ini bisa terjadi pada diriku?
Sampai beberapa bulan kemudian,Arini masuk rumah sakit.Aku tak tahu apa sebabnya.Selama ini,aku sibuk mengajar di pesantren peninggalan kakek.Jarang sekali aku berdua dengan Arini.Tapi kurasa,dia mengerti keadaanku.Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit,aku baru tahu.Ternyata,Arini menderita leukemia.Ya Tuhan,aku merasa berdosa padanya.Mulai saat itu,kucoba untuk lebih banyak meluangkan waktu bersamanya.Bukan karena aku cinta.Bukan.Aku masih belum bisa mencintai dia.Entah setan apa yang merasuk kedalam hatiku,sehingga aku belum juga bisa mencintai istriku sendiri.
Suatu ketika,Arini pingsan.Aku segera membawa Arini ke rumah sakit.Selama dua hari,Arini belum juga membuka matanya.Aku menjaganya seorang diri.Kupandangi wajah teduhnya.Kulihat,Arini mulai membuka matanya.
“Mas Iful.”panggil Arini lirih.Aku segera mendekatinya.Kucoba memegang tangannya.”Mas,aku tahu semuanya.Selama ini,Mas tidak pernah mencintaiku.Mas hanya mencintai Mahira.”Arini berhenti berkata.Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku.
“Kalau bukan kakek yang menjodohkan aku dengan Mas,akupun tak ingin pernikahan ini terjadi.Aku tahu semuanya Mas.Mahira sahabatku.Selama ini,Mas masih menyimpan foto Mahira bukan?Maafkan aku Mas,aku mencintaimu.Aku tak ingin melihatmu terluka karena menikah denganku.Selama ini,aku berusaha menyimpannya dalam hati.Tapi kurasa,waktuku sudah semakin dekat.Aku ingin melihatmu bahagia Mas.Menikahlah dengan Mahira.”Ucapan Arini membuatku bagai disambar petir.Perlahan,air mata mengalir dipipiku.Benar-benar baru kusadari.Arini adalah surgaku.Perlahan tapi pasti,ada sesuatu yang masuk ke dalam hatiku.Nama Arini bersemayam disana.”Tidak Arin,aku akan selalu bersamamu.Sampai kapanpun.Aku ingin hidup bersamamu.Aku mencintaimu.”Kulihat Arini tersenyumPerlahan,kedua matanya tertutup.Arini telah pergi untuk selamanya.Itulah kata pertama dan terakhir yang kuucapkan padanya.Dunia terasa gelap.Aku telah kehilangan Arini.Tuhan telah mengambilnya dariku,dengan berjuta penyesalan yang ada dalam hatiku.
***
“Kang Iful,sampeyan ditimbali Kyai di ndalem.”Yusuf datang mengagetkanku.Segera saja,kututup kitab Ihya-ku.Aku melangkah pasti menuju ndalem Kyai.Hatiku diliputi banyak pertanyaan.
***
Ternyata,Kyai menyuruhku untuk pulang.Kakekku sakit.Akhirnya aku manut saja.Setelah berkemas,aku pamit kepada Yusuf.”Wah,ini jangan-jangan mau ada yang lamaran yang Kang?”Yusuf menggodaku.”Lamaran opo tho Suf,sudah.Aku pamit.Salam buat kawan-kawan ya.Assalamu’alaikum.”
“Insya Allah.Kang.Hati-hati.Wa’alaikumsalam.”
Lamaran?Yang benar saja.Biarlah mereka berkata seperti itu.Jika tiba saatnya nanti,akupun akan menemui dirinya.Kan kuungkapkan semua padanya.
***
“Iful,kamu cucu kakek yang paling besar,jaga pesantren ini ya.”Setelah ngendika seperti itu,badan kakek lemas.Beliau telah kembali ke Rahmatullah.Suasana duka langsung menyelimuti keluargaku.Terutama ibu,beliau adalah putri kesayangan kakek.Apalagi,beliau juga baru kehilangan Abah setengah tahun yang lalu.
***
Sehari setelah kakek meninggal,ibu memanggilku.”Ful,ada sesuatu yang harus kamu ketahui.Sebelum meninggal,kakekmu telah menjodohkanmu dengan seorang gadis.Dia baik budi pekertinya,halus bicaranya,ibu suka sama dia.”Hatiku bergetar mendengar penuturan ibu.Pikiranku langsung tertuju pada Mahira.Haruskah aku manut pada wasiat kakekku,dan membunuh perasaanku terhadap Mahira?Lalu,mana rasa baktiku pada ibuku?Ya Allah,sungguh,aku tak tahu harus bagaimana.”Siapa dia Bu?”tanyaku.”Dia cucu teman kakekmu waktu nyantri di Kebumen.Mereka telah menjodohkanmu sejak kalian masih kecil.Namanya Arini.Kau pasti kenal dia Nak.”Arini?Siapa yang tak mengenalnya?Seorang gadis yang menjadi idaman banyak orang.Dia putri KH Ismail,pendiri Pesantren Darul Ulum Kudus yang kesohor itu.Tubuhku terasa lemas mendengar cerita ibu.Bagaimana mungkin aku mampu hidup dengan gadis seperti Arini?Siapa aku?Jika rencana kakek benar-benar terwujud,aku bukanlah akan menjadi suami yang baik untuk Arini.Aku mengukur diriku sendiri.”Bu,tidakkah ini terlalu cepat untuk Iful?”tanyaku pada ibu.Kulihat ibu mengernyitkan dahinya.”Terlalu cepat bagaimana Ful,ibu kira,kau sudah pantas untuk menikah.Apalagi yang kamu tunggu.Apa kau tidak cocok dengan Arini?Kurang apa dia Ful?Sudahlah,kamu manut saja.Ini pesan terakhir dari kakekmu.”Ibu meninggalkanku dalam sebuah pilihan.Ucapannya membuatku semakin tak berdaya.Arini terlalu sempurna,lagipula,sudah ada Mahira dalam hatiku.Duh Gusti,mengapa jadi seperti ini?Padahal,aku sudah berniat untuk mengkhitbah Mahira dalam waktu dekat ini.Tapi,mengapa waktu tak berpihak padaku?
***
Aku telah berulangkali melakukan sholat istikharah.Namun,tak sekalipun wajah Arini hadir dalam hatiku.Yang ada hanyalah Mahira,Mahira,dan Mahira.Sampai saat ini,seminggu sebelum pernikahan ku dengan Arini,gadis pilihan kakek dan ibuku.Arini tak secantik Mahira.Dia memang lembut,tutur bahasanya juga halus.Tapi,hatiku masih belum bisa terbuka untuknya.Aku masih terpaut pada wajah cantik Mahira.Mungkin,karna Mahira adalah cinta pertama yang mengakar dalam hatiku.Meskipun hingga saat ini,perasaan itu masih terpendam.Astaghfirullahal’adzim..Ya Robbi,bukankah seharusnya aku melupakan Mahira dan mencintai Arini?Gusti,bagaimana setelah menikah nanti,aku tak bisa mencintai Arini,istriku sendiri?Ataukah lebih baik,aku tak mendapatkan keduanya?
***
Kini,Arini telah resmi menjadi istriku.Ibu benar,dia gadis yang sholihah.Tapi,aku masih belum bisa mencintai Arini.Dihatiku hanya ada nama Mahira.Ya Tuhan,bagaimana ini bisa terjadi pada diriku?
Sampai beberapa bulan kemudian,Arini masuk rumah sakit.Aku tak tahu apa sebabnya.Selama ini,aku sibuk mengajar di pesantren peninggalan kakek.Jarang sekali aku berdua dengan Arini.Tapi kurasa,dia mengerti keadaanku.Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit,aku baru tahu.Ternyata,Arini menderita leukemia.Ya Tuhan,aku merasa berdosa padanya.Mulai saat itu,kucoba untuk lebih banyak meluangkan waktu bersamanya.Bukan karena aku cinta.Bukan.Aku masih belum bisa mencintai dia.Entah setan apa yang merasuk kedalam hatiku,sehingga aku belum juga bisa mencintai istriku sendiri.
Suatu ketika,Arini pingsan.Aku segera membawa Arini ke rumah sakit.Selama dua hari,Arini belum juga membuka matanya.Aku menjaganya seorang diri.Kupandangi wajah teduhnya.Kulihat,Arini mulai membuka matanya.
“Mas Iful.”panggil Arini lirih.Aku segera mendekatinya.Kucoba memegang tangannya.”Mas,aku tahu semuanya.Selama ini,Mas tidak pernah mencintaiku.Mas hanya mencintai Mahira.”Arini berhenti berkata.Aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku.
“Kalau bukan kakek yang menjodohkan aku dengan Mas,akupun tak ingin pernikahan ini terjadi.Aku tahu semuanya Mas.Mahira sahabatku.Selama ini,Mas masih menyimpan foto Mahira bukan?Maafkan aku Mas,aku mencintaimu.Aku tak ingin melihatmu terluka karena menikah denganku.Selama ini,aku berusaha menyimpannya dalam hati.Tapi kurasa,waktuku sudah semakin dekat.Aku ingin melihatmu bahagia Mas.Menikahlah dengan Mahira.”Ucapan Arini membuatku bagai disambar petir.Perlahan,air mata mengalir dipipiku.Benar-benar baru kusadari.Arini adalah surgaku.Perlahan tapi pasti,ada sesuatu yang masuk ke dalam hatiku.Nama Arini bersemayam disana.”Tidak Arin,aku akan selalu bersamamu.Sampai kapanpun.Aku ingin hidup bersamamu.Aku mencintaimu.”Kulihat Arini tersenyumPerlahan,kedua matanya tertutup.Arini telah pergi untuk selamanya.Itulah kata pertama dan terakhir yang kuucapkan padanya.Dunia terasa gelap.Aku telah kehilangan Arini.Tuhan telah mengambilnya dariku,dengan berjuta penyesalan yang ada dalam hatiku.
***




